Pendidikan Karakter di Sekolah

Kamis, 20 Oktober 2011 07:29:36 - oleh : admin
Sebuah penggalan pepatah mengatakan, “be careful of your character, for your character becomes your destiny.” Jika diterjemahkan, arti pepatah tersebut berbunyi demikian,
“Berhati-hatilah dengan karaktermu, karena karaktermu akan menentukan
nasibmu.” Sadar atau tidak sadar, sesungguhnya apa yang terjadi di
dalam hidup seseorang, termasuk diri kita, merupakan buah dari karakter
yang melekat pada diri kita.

Sebuah penggalan pepatah mengatakan, “be careful of your character, for your character becomes your destiny.” Jika diterjemahkan, arti pepatah tersebut berbunyi demikian,
“Berhati-hatilah dengan karaktermu, karena karaktermu akan menentukan
nasibmu.” Sadar atau tidak sadar, sesungguhnya apa yang terjadi di
dalam hidup seseorang, termasuk diri kita, merupakan buah dari karakter
yang melekat pada diri kita.


Acapkali terdengar
ungkapan bahwa baik atau buruknya karakter seseorang merupakan warisan
atau bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah. Pandangan tersebut
tentu saja keliru. Mengapa? Karena karakter yang dimiliki oleh manusia
tidak bersifat statis tetapi dinamis. Itu sebabnya kita bisa melihat
bahwa ada orang yang dulunya jahat sekarang menjadi baik. Sebaliknya,
ada orang yang dulunya baik tapi kemudian berubah menjadi jahat.
Menyikapi keberadaan karakter yang dinamis, maka pendidikan karakter
memiliki peluang bagi penyempurnaan diri manusia (Doni Koesoema, 2007).
Dengan kata lain, pendidikan karakter memainkan peranan penting dalam
mengarahkan sekaligus menguatkan seseorang untuk memiliki karakter yang
baik dalam hidupnya.


Sebelum melangkah lebih
jauh dalam pembicaraan tentang pendidikan karakter, kita perlu
mengetahui terlebih dahulu arti dari karakter dan definisi dari
pendidikan karakter. Ditinjau dari sudut etimologi, kata “karakter”
atau dalam bahasa Inggris disebut “character” berasal dari kata Yunani “charassein”Webster’s New World Dictionary of the American Language diartikan sebagai “pola perilaku moral individu.” Oleh karena itu,
pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai upaya membentuk pola
perilaku moral individu yang baik lewat proses berkesinambungan yang
berarti “mengukir.” Dari arti kata tersebut muncullah konsep karakter
yang oleh kamus
Pendidikan karakter  yang paling utama sejatinya
diberikan kepada seorang anak, sejak usia dini, dalam institusi
pendidikan yang paling kecil namun berperan paling penting, yaitu
keluarga. Dalam lingkup keluarga, seorang anak akan dibentuk karakter
atau pola perilaku moralnya oleh orang tua yang terdiri dari ayah dan
ibu. Selain keluarga, ada institusi pendidikan lain yang bisa dilibatkan
oleh orang tua untuk menanamkan karakter yang baik dalam diri
anak-anak mereka. Institusi pendidikan yang dimaksud adalah sekolah.
Sebagai institusi pendidikan formal, sekolah mulai dari jenjang
pendidikan awal hingga jenjang pendidikan tinggi berkewajiban untuk
membentuk karakter setiap peserta didiknya. Hal ini dikarenakan sekolah
merupakan partner orang tua dalam mendidik anak-anaknya.


Bila sekolah diberikan
peranan juga untuk membentuk karakter setiap peserta didiknya,
pertanyaan yang harus diajukan adalah, “Tahap-tahap apakah yang harus
dicapai oleh peserta didik  dalam pendidikan karakter  yang diterimanya
di sekolah?” Secara sederhana, ada tiga tahapan penting yang harus
dicapai oleh setiap peserta didik agar mampu menjadi pribadi yang
berkarakter baik dalam hidupnya. Tahap-tahap tersebut adalah knowing good (mengetahui yang baik), feeling good (merasakan yang baik), dan doing good (melakukan yang baik).


Ketiga tahapan
tersebut harus dicapai seluruhnya oleh setiap peserta didik dan tidak
bisa diabaikan salah satunya. Namun, dalam banyak praktek di
sekolah-sekolah yang terjadi adalah sebaliknya. Peserta didik, dalam
hal ini adalah siswa, hanya sampai pada tingkatan yang paling dasar
dari pendidikan karakter, yaitu knowing good. Dengan kata
lain, karakter yang baik baru sebatas teori dalam kepala mereka. Siswa
mengerti tentang kualitas karakter yang baik seperti kejujuran,
ketaatan, tanggung jawab, dan lain sebagainya, tapi hal tersebut tidak
meresap di dalam hati sehingga siswa tidak mampu merasakan, memiliki
keinginan, apalagi melakukan kualitas karakter tersebut dalam
kehidupannya sehari-hari. Tidak heran jika kita masih menjumpai siswa
antar sekolah yang terlibat tawuran, siswa yang terjerumus dalam
pemakaian narkoba, siswa yang bolos sekolah, siswa yang terlibat dalam
pergaulan bebas, siswa yang mengucapkan kata-kata kasar kepada guru
bahkan berani menganiaya gurunya sendiri. Oleh karena itu, pendidikan
karakter tidak cukup hanya menyentuh akal pikiran tapi juga hati setiap
peserta didik agar mereka mampu menghayati dengan benar dan pada
akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan serta memiliki karakter
yang baik dalam hidupnya.


Demi tercapainya
pendidikan karakter yang berhasil di sekolah, tidaklah logis jika
tuntutan  itu hanya dialamatkan pada peserta didik. Tanggung jawab yang
seharusnya lebih besar lagi justru terletak di pundak kita, para guru,
karena bagaimana pun setiap peserta didik atau siswa yang kita bina
akan melihat contoh nyata pelaksanaan karakter yang kita ajarkan tidak
lain dari perilaku maupun perkataan kita sehari-hari. Oleh sebab itu,
guru harus menjadi teladan atau pelaku pertama dari karakter yang
diajarkan kepada setiap anak didiknya.


Selain keteladanan,
guru juga harus menjalin relasi yang baik dengan orang tua peserta
didik. Hal ini penting agar guru dapat bekerja sama dengan orang tua
untuk memantau kekonsistenan perkembangan karakter peserta didik baik
di sekolah maupun di rumah. Bisa terjadi suatu situasi di mana seorang
peserta didik berkarakter baik di sekolah tetapi ketika siswa berada di
rumah hal sebaliknyalah yang terjadi. Seorang siswa bisa menjadi anak
yang sangat patuh terhadap guru di sekolah, tetapi menjadi anak yang
sangat memberontak terhadap orang tua di rumah.


Untuk mencegah hal
tersebut, guru dan orang tua harus saling bertukar informasi tentang
perkembangan karakter anak didik. Kuesioner adalah cara sederhana yang
dapat digunakan oleh guru untuk mendapatkan informasi dari orang tua
tentang perkembangan karakter anak didiknya di rumah. Kuesioner
tersebut berisikan pertanyaan-pertanyaan sederhana berkaitan dengan
karakter yang dipelajari anak di sekolah dan orang tua bertugas untuk
memberikan jawaban dalam kaitan pelaksanaan karakter tersebut oleh anak
di rumah. Informasi dari orang tua yang didapat oleh guru dapat
dijadikan salah satu pertimbangan untuk memberikan penilaian terhadap
perkembangan karakter anak didik yang bersangkutan. Di samping orang
tua, guru juga dapat meminta setiap peserta didiknya untuk menilai
perkembangan karakter temannya satu sama lain. Dengan menggabungkan
informasi dari orang tua, siswa, maupun dari guru sendiri maka penilaian
perkembangan karakter yang diberikan oleh guru kepada setiap peserta
didiknya akan lebih obyektif.


Bila pendidikan
karakter di sekolah dapat berjalan sebagaimana mestinya, setiap peserta
didik bukan hanya berkembang dalam hal perilaku moral atau karakternya
saja tetapi berdampak juga pada perkembangan akademisnya. Pernyataan
ini didasari pada dua alasan. Pertama, jika program
pendidikan karakter di sekolah mengembangkan kualitas hubungan antara
guru dan anak didik, serta hubungan antara anak didik dengan orang lain,
maka secara tidak langsung akan tercipta lingkungan yang baik untuk
mengajar dan belajar. Kedua, pendidikan karakter juga
mengajarkan kepada siswa tentang kemampuan dan kebiasaan bekerja keras
serta selalu berupaya untuk melakukan yang terbaik dalam proses belajar
mereka (Thomas Lickona, 2004).


Setelah melihat
pentingnya dan juga manfaat yang bisa diperoleh dari pendidikan karakter
di sekolah, alangkah baiknya jika setiap jenjang sekolah yang ada di
Indonesia menjadikan pendidikan karakter sebagai salah satu strong point atau
pilar kekuatan sekolah. Apalagi, saat ini sekolah lebih leluasa untuk
menyusun kurikulumnya sendiri. Namun, untuk mewujudkannya diperlukan
komitmen bersama yang kuat baik dari pihak sekolah (guru), orang tua,
dan siswa yang bersangkutan.


Joseph. Penulis
adalah wakil kepala sekolah SD Kristen Masa Depan Cerah. Selain
membaca, saya juga gemar menulis dan bercerita kepada anak-anak.


Sumber:
Masa Depan Cerah

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Pendidikan dan Kesehatan" Lainnya

Beranda

Program Keahlian

Sub Domain

Blog Guru

Blog Siswa

ETC

Akuntansi new

ISO

Tata Busana

BKK

Akuntansi

Ingat Sholat :

Pesan Singkat

Kalender

« Sep 2014 »
M S S R K J S
31 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11

Random Links

Wineto Website

View : 620 x hits
Join : 17-May-2011 12:38:58

Clock

Links

Info PPDB 2014/2015