Puasa da Kecerdasan Spiritual

Rabu, 10 Agustus 2011 09:18:21 - oleh : admin

PUASA DAN KECERDASAN SPIRITUAL

 

 

Menurut Michal Levin dalam Spiritual Intellegence, Awakening the Power of Your Spirituality and Intuition (2000) menyatakan bahwa pengetahuan spiritual perlu ditancapkan ke ranah kesadaran. Karena spiritualitas sebatas pengetahuan menjadi tak bermakna. Apalagi, pengetahuan seringkali mengganggu pikiran. Orang yang cerdas secara spiritual bukan berarti kaya dengan pengetahuan spiritual, melainkan sudah merambah ke dalam kesadaran spiritual. Kesadaran ini terefleksikan ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sikap hidup yang arif dan bijak secara spiritual, toleran, terbuka, jujur, cinta kasih dan Iain-lain. Inilah inti sejati kecerdasan spiritual.

Khalil A Khawari dalam bukunya Spiritual Intelligence, A Practical Guide to Personal Happiness (2000) mengungkapkan perspektif ‘kecerdasan spiritual’ sebagai pembimbing untuk meraih kebahagiaan spiritual. Sebagai makhluk spiritual, kebahagiaan manusia tidak bisa lagi diukur dengan uang, kesuksesan, kepuasan seksual dan lain-lain, tetapi kebahagiaan yang diletakkan dalam wilayah spiritual.

Dengan demikian, jika kecerdasan intelektual (IQ -Intelligence Quotient) bersandarkan nalar, rasio-intelektual, sementara kecerdasan emosional (EQ, Emotional Quotient) bersandar pada emosi, maka hakikat kecerdasan spiritual (SQ, Spiritual Quotient) disandarkan pada kecerdasan jiwa, ruhani dan spiritual. SQ adalah kecerdasan generasi ketiga yang diyakini mampu melahirkan kembali manusia setelah sekian lama mengalami alienasi dan disorientasi hidup.

Kesucian Hati

Puasa seperti apa yang dapat meningkatkan kecerdasan spiritual? Puasa yang dilakukan dengan kesucian hati dan kebersihan jiwalah yang dapat menumbuhkan apa yang dikatakan oleh psikolog Danah Zohar dan Ian Marshal (2000) sebagai kecerdasan spiritual. Atau puasa yang dilakukan dengan melibatkan hati nurani, sebagaimana yang disebut oleh Al-Gazali sebagai puasa orang yang super khusus. Puasa hati nurani inilah puasa sejati yang dapat menjadi instrumen penting untuk menyucikan hati kita.

Puasa seperti ini, selain menghindari makan, minum, tidak melakukan hubungan seksual, menghindarkan indera dari perbuatan dosa, juga puasa yang dilakukan tanpa mengharapkan imbalan apa pun dari Allah, baik berupa pahala, kesehatan, balasan atau bahkan surga. Puasa tersebut dilakukan dengan ikhlas, semata-mata karena perintah Allah. Sebab jika suatu ibadah dilaksanakan karena motivasi-motivasi lain, maka yang didapat hanyalah apa yang diharapkan, sedang yang lain, ia tidak akan memperolehnya.

Oleh karena itu, ikhlas adalah kata kunci pelaksanaan ibadah puasa (juga ibadah yang lain). Jika ibadah puasa dilaksakan dengan ikhlas (semata-mata melaksanakan perintah Allah), maka rentetan efek positifnya bukan hanya berupa pahala, surga, kesehatan atau apa pun yang diharapkan. Lebih dari itu, Allah akan memberikan keridaan kepadanya. Siapa pun yang memperoleh rida, maka apa pun yang dimiliki oleh Allah akan diberikan kepadanya, diminta atau tidak.

Dengan demikian, ikhlas ibarat sebuah tiket dalam perjalanan pesawat terbang. Seseorang cukup rnengantongi sebuah boarding pass untuk melaksanakan perjalanan jauh yang melelahkan. Diminta atau tidak, berbagai tasilitas dalam pesawat yang dibutuhkan oieh penumpang akan diberikan. Misalnya, pelayanan yang ramah dari pramugari, dapat makanan dan minuman, kenyamanan dan kesenangan dalam perjalanan dan lain-lain. Jika seorang muslim berpuasa dengan ikhlas, maka kelak ia akan mendapatkan hak-haknya berupa kebahagian dan ketenangan hidup.

Puasa hati nurani inilah yang akan menyingkap seluruh rahasia ketuhanan, yang terpancar dari dalam jiwa manusia. Jiwa manusia yang tenang, akan mudah menerima hidayah dan cahaya keagungan Tuhan dalam menjalani kehidupan. Hidayah inilah yang akan menuntun dan mempermudah manusia dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup yang semakin kompleks. Apa yang ingin ditekan di sini adalah bahwa hati yang hening dan bersih lebih mudah menerima kecerdasan spiritual yang dipancarkan dari Allah.

Puasa yang dapat mengembangkan kecerdasan spiritual adalah puasa yang dilakukan oleh orang yang melihat segala sesuatu dengan mata hati. Mata hatilah yang dapat menyingkap hakikat kebenaran yang tak tampak oleh mata.

Puasa yang dilakukan tanpa melibatkan mata hati adalah puasa yang hampa, kehilangan orientasi ilahiahnya.

Dengan demikian, indikator keberhasilan puasa seseorang bukan pada bentuk lahiriah ibadahnya, tetapi pada kegiatan amaliah dan sikap hidupnya.

Sumber : Arsip Milis

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Pendidikan dan Kesehatan" Lainnya

Beranda

Program Keahlian

Sub Domain

Blog Guru

Blog Siswa

ETC

Akuntansi new

ISO

Tata Busana

BKK

Akuntansi

Ingat Sholat :

Pesan Singkat

Kalender

« Jul 2014 »
M S S R K J S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9

Random Links

Wisata Hati Online

View : 763 x hits
Join : 23-Jan-2010 13:27:07

Clock

Links

Info PPDB 2014/2015